Maqoshid Al-syari’ah Sebagai Katalisator Santri Untuk Kemajuan Perekonomian Nasional

Oleh: Abdul Hanif
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

A. PENDAHULUAN

Sejak pertama kali pesantren berdiri di Nusantara, sebutan santri diklarifikasikan menjadi dua jenis. Pertama adalah santri mukim. Mereka adalah santri-santri yang datang dari berbagai macam daerah yang jauh dan menetap di lingkungan pesantren. kemunculan mereka ini didorong oleh hasrat belajar yang tidak didukung oleh keberadaan guru-guru di kampung halaman mereka masing-masing, sehingga mereka pun berkelana untuk mencari ilmu agama. Jenis kedua adalah santri kalong. Santri jenis ini biasanya berasal dari desa-desa di sekitar pesantren. mereka tinggal di rumah orang tua masing-masing dan mereka baru datang belajar ke pesantren ketika kiyai mereka dijadwalkan mengajar.


Sejak awal pendirian pesantren di tanah nusantara ini sudah banyak dari kalangan santri yang menjadi kader-kader ulama, zu’ama, ahlul iqthishod dan para mushonnif kutub yang teruji keilmuannya pada masa itu. Pada hakikatnya lahirnya santri di nusantara ini adalah untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai aspek kehidupan yang Tuhan telah sediakan dimuka bumi ini, entah dari aspek akhlak, politik, tata negara, perekonomian dsb, guna untuk mensejahterakan masyarakat di tanah air kita tercinta ini.


Namun dengan berkembangnya zaman banyak ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran barat yang mempengaruhi generasi bangsa dan negara Indonesia, sehingga para regenerasi kita terhegemoni oleh westernisasi arus zaman globalisasi ini khususnya dalam bidang akhlak (tasowwuf), dan perekonomian (al-iqthishod) sehingga regenerasi bangsa Indonesia mengalami dekadensi yang sangat signifikan terlepas dari kalangan santri atau non-santri. Contohnya dekadensi dalam hal perekonomian, padahal Indonesia adalah bangsa yang kaya raya.

Tuhan telah menganugrahkan kepada Bangsa Indonesia berbagai macam potensi yang ada didalamnya yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, tapi kenapa bangsa Indonesia masi saja terjajah oleh bangsa dan negara sekutu yang ingin menghabiskan kekayaan-kekayaan yang dimiliki oleh bangsa kita Indonesia. Mereka mengambil alih kekayaan yang semulanya adalah milik bangsa Indonesia yang kemudian mereka jadikan kekayaan kita menjadi hak milik kekayaan mereka semata, dengan berbagai macam cara mereka lakukan untuk merebut kekayaan perekonomian bangsa kita Indonesia. Begitu pula dengan polemik yang kerap terjadi pada internal bangsa kita yang sangat ironis sekali khususnya pada permasalahan perekonomian, disebagian wilayah dan daerah ada sebagian kecil masyarakat yang terjerumus dalam kemurtadan yang disebabkan oleh keterbatasan ekonominya, ia rela menjual agama dan keyakinan demi sebungkus sembako guna untuk menutupi kebutuhan hidupnya.

Hal ini menandakan bahwa, bangsa Indonesia belum mampu untuk mensejahterakan masyarakatnya dalam hal perekonomiannya. Dan hal ini sudah terlebih dahulu dikhawatirkan oleh Baginda nabi Muhammad Saw dalam haditsnya “kaada al-faqru an yakuna kufron”. Maka berangkat dari kasus ini ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab bersama oleh para santri antara lain:

  1. Apa peran santri untuk memajukan perekonomian bangsa Indonesia ?
  2. 2. Bagaimamanakah peran santri untuk mengatasi pemurtadan yang disebabkan oleh perekonomian yang tidak mencukupi, sebagaimana yang kerap terjadi di bangsa kita Indonesia ini?


Untuk menjawab sebuah pertanyaan diatas, tentu seorang santri harus memahami secara mendalam untuk bisa mendapatkan sebuah jawaban yang sesuai dan relevan untuk mengatasi peroblematika yang kerap terjadi di bangsa kita ini yang disebabkan oleh faktor ekonomi yang tidak mencukupi, tegasnya keterbatasan dalam SDM. Dengan menghadapi berbagai problematika yang bertubi-tubi mau tidak mau para santri harus mampu menjawab dan merespon rintangan ini dengan semangat perjuangannya. Karena dunia ini akan selalu berputar dinamis maka berbagai problematika akan bermunculan sesuai dengan keadaan. Penulis berharap kepada semua kalangan santri agar tetap istiqomah menjalankan tugasnya sebagai kholifah dimuka bumi ini yang diperintahkan oleh Tuhan untuk berbuat baik kepada semua kalangan untuk tetap menjaga maqoshidu al-syari’ahnya.


Berkolerasi dengan kasus diatas, penulis berharap kepada santri-santri nusantara agar selalu merespon dan menjawab dari berbagai pertanyaan dan problematika di dunia ini. Sebab segala persoalan tidak akan pernah ada habis-habisnya, apalagi sebuah persoalan mengenai perekonomian bangsa kita Indonesia ini yang semakin hari semakin lincah dalam persaingannya. Belum lagi akan diadakannya perdagangan bebas MEA. Oleh karenanya, kita sebagai santri yang hidup sebagai warga Indonesia mari kita majukan perekonomian bangsa Indonesia dengan mengedepankan eksitensi kesantrian, dengan membangun fisik dan non-fisik perekonomian demi terjaganya maqoshid al-syari’ah al-kaffah di tanah air kita tercinta ini.

B. PENYAJIAN, ANALISIS, DAN INTERPRETASI


Sebagaimana telah penulis sampaikan diawal, bahwa bangsa Indonesia sangat tertinggal perekonomiannya oleh negara-negara lain, belum lagi negara sekutu menjajah bangsa indonesia bukan dengan fisik melainkan dengan merampas habis kekayaan yang ada di bangsa Indonesia ini (SDA) secara berlahan dengan memperkerjakan peribumi. Dalam problematika ini sudah seharusnya para santri untuk mengambil peran dan menjadikan situasi tersebut adalah bagian dari pada jihad para santri untuk membangun perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional.


Maka berangkat dari problematika inilah menurut penulis ada dua hal yang harus para santri perhatikan untuk membangun kembali perekonomian bangsa kita menuju perekonomian nasional. Yang pertama, adalah pembangunan secara fisik, dan yang kedua, pembangunan secara non-fisik hal demikian bisa kita sebut sebagai pembangunan secara lahiriyah dan pembangunan secara bathiniyyah. Dalam membangun dua kutub tersebut akan terealisasikan jika para santri mengkatalisatori maqoshidu al-syari’ah al-kaffah sebagai landasan normatifnya dalam kehidupan berbangsa.


Sebagaimana kita ketahui bahwa maqoshidu al-syari’ah itu terbagi menjadi 5 macam sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama, yaitu: hifdh al-din, hifdh al-nafs, hifdh al-‘aql, hifdh al-mal, dan hifdh al-nasl ke lima tujuan syariat ini para santri harus bisa menjaga eksistensinya dengan memperkuat dan memperkokoh berbagai macam aspeknya di satu sisi serta melakukan berbagai macam upaya preventif dan represif di sisi lain, sehingga maqoshid tidak hilang dalam peroses kehidupan yang terus berubah khususnya dalam bidang perekonomian bangsa.


Maka dari itu menurut penulis bahwa maqoshid al-syari’ah sebagai katalisator santri untuk memajukan perekonomian nasional sangat cocok sebagai pedoman para santri demi terwujudnya perekonomian bangsa menuju perekonomian nasional. Adapun maqoshid yang dimaksud oleh penulis antara lain:

  1. Hifdh al-din (menjaga agama) maksudnya adalah para santri harus mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai agama, khsusunya dalam bidang fiqh muamalah, al-iqtishod dan bab al-tujjar. Sebab jika seorang santri telah memahami sebuah konsep perekonomian yang diajarkan oleh baginda nabi, maka ia akan megetahui sebuah rambu-rambu dalam berbisnis mana yang dibolehkan oleh syara’ dan mana yang di larang oleh syara’, mana yang harom lidzatihi dan harom li ghoirihi. Dalam dunia perekonomian pun harus menghindari unsur2 maghadir ( maisir, gharor, riba, dan dzholim) jika sebuah aspek diatas telah melekat pada setiap jiwa santri maka perekonomian bangsa Indonesia akan maju menuju perekonomian nasional yang Robbani.
  2. Hifdh al-nafs (menjaga jiwa) maksudnya adalah bahwa diharapkan kepada seluruh santri harus bisa memperjuangkan dan membangun sebuah inovasi yang kokoh dan kuat untuk merebut kembali perekonomian bangsa. di harapkan juga kepada seluruh santri agar membuat sebuah inovasi yang bisa meninkatkan kesejahteraan hidup berbangsa terutama dalam bidang ekonominya, seperti membuat lapangan kerja, membuat lembaga keuangan syari’ah, lembaga bisnis syari’ah, hotel syari’ah, pariwisata syari’ah, properti syari’ah, perumahan syari’ah, perusahaan syari’ah, rumah makan syari’ah, butik syari’ah, bengkel syari’ah dsb, hal ini pasti akan terwujud jika para santri benar-benar memahami dan merealisasikan sebuah pengetahuan yang kaffah untuk meningkatkan kesejahteraan bangsanya menuju dunia perekonomian nasional yang robbani. Sebab sekarang ini hampir semua lembaga di bangsa kita di kuasai oleh bangsa asing sedangkan peribumi hanya dijadikan karyawan yang mengerjakan di dalam pabrik tersebut, dan keutungan yang berlimpah akan di dapatkan dan di peroleh oleh orang asing dengan mudah. Maka dari itu terlepas dari santri ataupun bukan santri mari kita bangun bersama, mari kita singsingkan tangan untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa Indonesia dengan sebuah karya dan usaha dari perjuangan anak bangsa kita, karena semua SDA di negara kita ini sangat berlimpah ruas. Hanya saja di bangsa kita sebuah SDM yang terbatas menjadikan peribumi ini terjajah dan menjadi budak dalam bidang perekonomian yang diambil alih dan dikuasi oleh pengusaha asing. Maka dari itu hifdh al-nafs ini sesuai dengan nadist nabi saw “ al-mu’minu qowiyyu khoerun wa ahabbu ila Allah min al-mu’mini dhoief” yang artinya “ bahwa seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah ketimbang seorang mukmin yang lemah”. Dari hadits ini mari kita perjuangkan spirit para santri untuk terus berjuang dan berinovasi untuk membuat perubahan yang signifikan untuk bangsa Indonesia ini, tentu dengan merealisasikan sebuah kemampuan yang dimiliki oleh santri demi terciptanya dunia perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional yang Rabbani.
  3. Hifdh al-aql (menjaga akal) maksudnya adalah bahwa seorang santri harus memiliki pemikiran yang sehat, sehat rohani dan jasmani sebagai manusia yang ulul al-bab. Sebab jika seorang santri memiliki pemikiran yang sehat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt dalam firmanya “ allazina yadzkuruna Allah qiyaman wa qu’udan wa ‘ala junubihin wa yatafakkaruna…” maka seorang santri harus bisa memikirkan dan merubah tatanan bangsa negara kita yang semakin hari semakin merosot dari segi kesejahteraan perekonomian bangsanya. Sebab Allah telah berfirman dalam firmannya dengan memberikan title kepada seorang yang berilmu dengan title ulul al-bab. Dan seorang santri bisa dikatagorikan sebagai santri yang ulul al-bab antara lain dialah yang selalu memikirkan akan sebuah perubahan bangsanya menuju perubahan yang lebih baik. jika ulul al-bab ini dikaitan dengan seorang santri yang selalu memikirkan akan perubahan bangsa Indonesia menuju perubahan perekonomian yang lebih baik. maka bangsa Indonesia ini akan meningkat dalam pendapatan perekonomiannya dan bisa membuat sebuah inovasi demi perubahan perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional yang robbani dan bisa merebut kembali kekayaan yang semulanya kita miliki bersama. Hifdh al-aql ini sesuai hadits nabi saw “ laa diena liman laa aqla lahu”.
  4. Hifdh al-mal (menjaga harta kekayaan) maksudnya adalah seorang santri harus mampu membuat bangsa indonesia ini menjadi bangsa yang maju dalam hal perekonomiannya. Entah bagaimanapun caranya entah apapun yang kita lakukan untuk memajukan bangsa dalam bidang perekonomian. Maka seorang santri harus mampu mendobrak pintu-pintu kesenjangan sosial yang ada di bangsa kita agar kehidupan bangsa kita terarah lebih baik. Dan ketika bangsa Indonesia telah maju dalam dunia perekonomiannya maka bangsa Indonesia tidak akan pernah terkalahkan oleh bangsa-bangsa asing dalam SDM dan SDA nya. Sebab jika bangsa Indonesia masi saja terperosot dalam bidang ekonomi maka di bangsa kita ini akan sering terjadi sebuah kriminalisasi yang merajalela, pemurtadan secara diam-diam oleh kaum misionaris yang sasarannya kepada masyarakat yang kekurangan di dalam bidang ekonominya. Maka dari sini seorang santri harus bisa mensejahterakan dan mengambil alih kekayaan bangsa Indonesia demi terwujudnya bangsa yang kaya akan perekonomian bangsanya menuju perekonomian nasional yang robbani.
  5. Hifdh al-nasl (menjaga keturunan) maksudnya adalah seorang santri harus bisa mewariskan sebuah kekayaan yang dimilikinya, serta harus bisa menjaga perekonomian bangsa seperti Freeport yang sekarang hampir direbut oleh Amerika. Sebuah kekayaan yang dimiliki oleh bangsa indonesia harus kita jaga dan lestarikan menjadi lebih baik dan mampu untuk bersaing dalam perekonomian asing sebagaimana yang dirumuskan oleh peresiden Ir. Joko Widodo perihal MEA Masyarakat Ekonomi Asean yang akan digelar dan diberlakukan. Maka dari itu seorang santri harus mempersiapkan secara fisik ataupun non-fisik terkait dengan persaingan perdagangan bebas yang dilakukan oleh antar negara. Maka disinilah peran santri untuk memajukan perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional yang robbani dengan menjaga maqoshid al-syari’ah al-kaffah yang tertanam dalam jiwa-jiwa santri dan bangsa Indonesia.


Jika seorang santri sudah melaksanakan maqoshid al-syari’ah al-kaffah sebagai wadah untuk memajukan perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional yang robbani, maka dengan i’tikad yang baik dan sepirit yang menjerit perekonomian bangsa Indonesia akan maju secara eksplisit dan bisa bersaing melawan bangsa asing yang sudah berani merampas hak dan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa kita Indonesia ini.

C. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Dari apa yang telah penulis sampaikan di atas, bahwa maqohsid al-syari’ah al-kaffah mampu untuk mendorong jiwa-jiwa sepirit santri untuk mendobrak dan memajukan perekonomian bangsa Indonesia menuju perekonomian nasional yang rabbani dengan menggunakan metode maqoshid yang lima, antara lain: hifdh al-din, hifdh al-nafs, hifdh al-aql, hifdh al-mal dan hifdh al-nasl.
Dalam konteks maqoshid ini, ada aturan yang bersifat dharuriyyah (primer), hajjiyah (sekunder), dan tahsiniyah (tersier). Apabila yang dharuriyyah tidak tercapai, maka kehidupan perekonomian bangsa Indonesia akan mengalami keguncangan. Jika yang hajjiyah tidak terlaksana maka perekonomian bangsa Indonesia akan menjadi sesuatu yang menyulitkan. Akhirnya, jika yang tahsiniyah tidak terwujudkan, maka kehidupan perekonomian bangsa Indonesia akan menjadi sesuatu yang tidak indah. Maka dari itu maqoshid al-syai’ah al-kaffah harus dijalankan bersama demi terwujudnya perekonomian bangsa Indonesia yang robbani.

DAFTAR PUSTAKA

Mujahid Abu. Sejarah “NU Ahlu Sunnah Wal Jama’ah” Di Indonesia. Bandung: Toobagus Publishing. 2013.
Djazuli. Ahmad. H. Fiqh Siyasah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2003.

PROFIL PENULIS
Penulis bernama Abdul Hanif lahir di Bekasi 14 maret 1996 tepatnya di kampung pengasinan Rt 001 Rw 017 Kel. Pengasinan Kec. Rawa lumbu Bekasi. Pendidikan formal ditempuh di SD Pengasinan V Bekasi 2008. MTS Ponpes Ummul Quro Al-Islami Bogor 2011. MA Ponpes Ummul Quro Al-Islami Bogor 2014. Saat ini sedang melanjutkan pada jenjang pendidikan strata satu (S1) pada jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah (Mumalah) Fakultas Syari’ah dan Hukum Semeter VII (tujuh). Pengalaman organisasi antara lain: ISPA UQI, ASWAJA, PMII dan dakwah santun pada media sosial adalah bagian dari kehidupan penulis, saat ini penulis sedang belajar di Ponpes Al-Ihsan Cibiru Hilir Bandung.
NAMA PENA :hans_

Mari diskusi ..