Sebuah Analisis, Monopoli Pasar: Berkah atau Madharat?

Oleh : Adzie A Fauzie

Nama pena : Aji Pamungkas

Monopoli atau pasar monopoli adalah suatu keadaan dimana hanya terdapat satu produsen atau penjual tunggal yang menguasai pasar. Karena keadaan yang tunggal tersebut monopoli punya ciri tertentu dalam struktur pasar, yaitu sebagai price maker(penentu harga).

Banyak kalangan yang menilai bahwa praktik monopoli adalah praktek yang menyengsarakan masyarakat, disisi lain karena sifatnya yang totaliter menyebabkan perusahaan di pasar monopoli bisa menentukan harga sebebas yang mereka inginkan dan meraup untung yang sebesar-besarnya. Bahkan karenanya bisa melewati batas kedigdayaan sebuah negara, menurut Anis Matta dalam pidatonya mengutip :

”… Sekarang, dari waktu ke waktu otoritas negara ini dikurangi terus menerus. Sekarang ini ada organisasi tidak sebesar negara tapi lebih digdaya dari Negara, namanya: perusahaan multinasional. Coba Anda bayangkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Republik Indonesia $50 miliar, sedangkan Google, sebuah perusahaan search engine di internet, mampu mengkapitalisasi dana dari pasar modal (market capitalization) sampai $150 miliar. Kita perlu mengumpulkan tiga tahun APBN baru mirip dengan Google. Dan, bayangkan juga, negara sebesar Indonesia ini bisa dibangkrutkan oleh seorang Yahudi, bernama George Soros..”[1]

 

Dalam konteks globalisasi, John Pilger dalam sebuah laporan khususnya tentang akibat buruk globalisasi bagi sebuah negara besar seperti Indonesia, menyatakan

”… Hanya dengan 200 perusahaan, seperempat kegiatan ekonomi dunia sudah dikuasai. Sekarang ini General Motors lebih besar dari Denmark, Ford lebih besar daripada Afrika. Luput dari mata para pembeli di jalan-jalan besar, merk-merk terkenal, mulai dari sepatu olahraga hingga pakaian bayi, hampir seluruhnya dibuat di negara-negara miskin dengan upah buruh sangat rendah, nyaris seperti budak. Untuk mempromosikan Nike, pegolf Tiger Woods dibayar lebih tinggi dibandingkan dengan seluruh upah buruh yang membuat produk Nike di Indonesia. Desa global seperti inikah yang disebut-sebut sebagai masa depan umat manusia?[2]

           

Serangkaian keberatan terhadap monopolis pun diajukan oleh para pakar tentang perusahaan perusahaan monopoli menetapkan harga terlalu tinggi dan kuantitas yang rendah, mereka mengeruk laba yang berlebihan dan sebagainya. Terlebih pada kerusakan alam yang telah diakibatkan oleh sebagian besar perusahaan ternama.

 

Penjelasan diatas seolah memberikan gambaran kepada kita bahwa praktek monopoli itu adalah sesuatu yang jahat, tidak berprikemanusiaan, greedy, dan pantas untuk dilenyapkan. Seolah mengatakan bahwa tak ada keadilan dalam monopoli, dan yang ada hanya kesengsaraan bagi rakyat semata. Namun apakah kita sepragmatis itu? Cukup dengan menerima sebagian fakta untuk dijadikan pedoman dan tak berkeinginan untuk mencari lebih lanjut?

Coba kita berandai sejenak bahwa jika di dunia ini tidak ada perusahaan monopoli(sebenarnya jika terdapat beberapa perusahaan besar disebut oligopoli, namun penulis dalam hal memudahkan pemahaman menggunakan kata ‘monopoli’), dan anggap bahwa semua perusahaan mempunyai kekuatan yang sama besar porsinya baik dalam segi modal, pasar, dan produktivitas. Menghapus perusahaan besar berarti menghapus produk yang mereka tawarkan pada konsumen. Dalam hal ini, maka produk seperti Microsoft, Google, Exon, Toyota, Unilever, Samsung, Dll harus kita hapuskan sementara dalam dunia yang kita buat. Efeknya tak bisa diprediksikan secara tepat, namun yang pasti adalah perkembangan dunia takkan secepat seperti yang kita rasakan sekarang, dunia akan sedikit melambat perkembangannya, bahkan mungkin stagnan, suatau keadaan yang sama persis dengan masyarakat eropa sebelum revolusi industri terjadi, yang ekonominya begitu begitu saja selama ratusan tahun, dan kemudian berkembang pesat pasca revolusi industri dalam kurun waktu yang sangat cepat.

Monopoli sebagai sumber inovasi

 

Joseph Shumperer secara terang-terangan mengatakan bahwa sumber inovasi dan perubahan teknologi ditemui dalam perusahaan perusahaan raksasa dan dalam persaingan yang tak sempurna. Walaupun diakuinya bahwa persaingan tak sempurna kadang menimbulkan inefisiensi, karena harga yang ditetapkannya berada diatas biaya marjinal Shumperer berpendapat bahwa inovasi yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan dapat menutupi kerugian yang diakibatkan harga yang tinggi.[3]

Dan akan mengejutkan jika kita mengetahui bahwa ternyata sumbangan penemuan dalam bidang medis dan teknologi 91% nya berasal dari perusahaan-perusahaan dengan capital yang besar atau perusahaan monopoli/oligopoli jauh dibawah perusahaan menengah dan individu yang hanya berkontribusi sekitar 9%.[4] Hal ini seolah menegaskan kembali kepada kita bahwa ada sumbangan yang telah diberikan perusahaan yang kita kutuk didalam aksi-aksi demo ternyata tidaklah main-main bermanfaatnya dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Tak heran jika Schumperer dengan berani mengatakan di dalam hipotesisnya :

 

“Tingkat kehidupan modern masyarakat akan berkembang selama usaha besar relatif tak terkekang. Kalau kita membuat daftar berbagai hal yang terdapat pada anggaran para pekerja modern dan, mulai 1899, mengamati perkembangan harga, Kita pasti terpesona oleh kecepatan kemajuan yang besar dan tidak lebih kecil dibanding sebelumnya mengingat peningkatan kualitas yang menakjubkan….

Inipun tidak seluruhnya. Segera setelah kita menyelidiki beberapa hal yang kemajuannya begitu mencolok, jejaknya ternyata tidak menuju ke pintu perusahaan persaingan bebas, tetapi justru ke pintu perusahaan-perusahaan besar yang sebagaimana halnya mesin pertanian, juga menyebabkan banyak kemajuan dalam sektor kompetitif dan secara mengejutkan kecurigaan karena ternyata perusahaan besarlah yang mungkin telah meningkatkan standarkehidupan, bukan menekannya.”[5]

Hipotesisnya, mengejutkan para pakar ekonomi yang secara tegas mempunyai pandangan yang berseberangan. Atas dasar hal ini pula, para ilmuwan kemudian mengkaji kembali selama lebih dari empat dasawarsa. Dan akhirnya sejauh mana kebenaran teori ini? Sebagian besar ahli ekonomi mengakui adanya kebenaran dalam hipotesis Schumperer. Kita memang tidak melihat aktivitas riset dan pengembangan di toko kelontong atau para petani jagung. Sebaliknya aktivitas tersebut sangat gencar dilakukan oleh perusahaan dengan kapital yang besar.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hal demikian terjadi, seolah menguatkan kembali teori seleksi alam Darwin bahwa yang kuat ialah yang menang. Hal ini mungkin saja terjadi karena berkaitan erat dengan kekuatan pasar yang mereka miliki. Logikanya, sebuah perusahaan dengan pangsa pasar sebesar 65% dari total produksi di suatu negara akan memperoleh laba yang sangat besar ketika terjadi peningkatan kualitas pada produknya dibanding dengan perusahaan yang hanya memainkan sejumlah kecil pasar. Sehingga karena besarnya pangsa pasar tersebut menjadi insentif tak langsung bagi perusahaan besar untuk terus melakukan perkembangan didalam pengetahuan dan teknologi agar selain demi efisiensi juga demi agar pasarnya tidak tergerus oleh perusahaan lain.

 

Monopoli dan kesenjangan yang semakin melebar

Bersamaan dengan hal itu, kita juga harus memikirkan disamping penemuan dan efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan monopoli, bahwa ada dampak eksternalitas dengan adanya monopoli market. Tak dapat dipungkiri selain kemajuan teknologi dan berbagai fasilitas yang kita nikmati ada kebobrokan didalamnya, berupa kesenjangan yang semakin melebar dan pundi pundi uang yang terkumpul di beberapa gelintir orang. Hal ini menimbulkan keresahan di masyarakat karena uang tak beredar sebagaimana mestinya. Para monopolis menimbun harta mereka di bank-bank. Padahal didalam alquran jelas-jelas telah disebutkan bahwa uang itu tidak boleh hanya mengalir diantara orang-orang kaya saja “kaela yakuuna duulatan minal aghniyaa

Disini peran ekonomi islam cukup vital dalam memperbaiki pandangan terhadap perusahaan monopolis. Kita sering mendengar kaidah bahwa didalam muamalah segala sesuatu dihukumi boleh selama tidak ada yang melarang. Begitu juga dengan perusahaan monopolistic menurut saya adalah sesuatu yang boleh boleh saja selama tidak membuat madharat. Lalu mengatasi permasalahan uang yang mengalir hanya bagi pemilik perusahaan, maka didalam islam sudah jelas ada mekanisme ZISWAF agar harta dapat juga dinikmati oleh orang-orang yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Terkait itu tentu kita tidak bias menafikan peran pemerintah diperlukan terkait kebijakan yang harus dilakukan dalam mengantisipasi hal seperti disebutkan diatas. Dan buktinya sebagian sudah kita lihat  seperti dengan diterbitkannya peraturan tentang wakaf yang mana merupakan salahsatu mekanisme pengurang ketimpangan dalam islam.

Tapi pemerintah juga mesti hati-hati dalam membuat kebijakan. Jangan sampai membuat beban perusahaan semakin besar yang membuat ongkos produksi naik. Karena dengan begitu justru akan memperparah keadaan. Jika begitu, perusahaan dalam rangka menutupi biaya akan melakukan langkah inisiatif, jika dengan menaikkan harga barang tidak memungkinkan, maka pemecatan para pekerja adalah langkah solutif. Maka peran pemerintah juga menjadi krusial.

Kembali ke pembahasan awal. Kita telah melihat dampak yang terjadi, meski sebenarnya pembahasan tentang bonafiditas monopoli masih diperdebatkan sampai sekarang oleh para pakar. Tapi setidaknya uraian diatas telah memuat pandangan umum bahwa setidaknya kita harus berterimakasih pada mereka (kaum monopolis) karena dunia bergerak begitu cepat berkat penemuan-penemuan yang mereka sumbangkan bagi dunia, meski disisi lain dampak buruk eksternalitasnya tak dapat kita hindari dan bahkan sebagian mesti dikecam.

Catatan Kaki

[1] Ceramah ini disampaikan oleh Anis Matta di Masjid Agung Al-Ukhuwwah Bandung, pada tanggal

17 Agustus 2006. Anis Matta lahir di Bone, 28 September 2006. Dia memegang gelar Licensed (Lc.)

dalam bidang syariah dari LIPIA Jakarta. Sekarang dia adalah Sekretaris Jenderal Partai Keadilan

Sejahtera dan anggota Majelis Hikmah Muhammadiyah. Anis Matta termasuk salah satu cendekiawan

muda yang banyak mempengaruhi pemikiran kaum muda Islam di Indonesia. Beberapa bukunya yang

sudah diterbitkan di antaranya Menikmati Demokrasi, Dari Gerakan ke Negara dan Mencari Pahlawan

Indonesia. Khusus yang berkaitan dengan ceramah ini, lihat Anis Matta, Dari Gerakan ke Negara.

  1. Bandung: Fitrah Rabbani

[2] Lihat video yang sangat menarik pengaruh globalisasi pada kemiskinan Indonesia yang berjudul New

Rulers of The World oleh John Pilger yang diproduksi oleh Institute for Global Justice dan INFID.

[3] Paul A Samuelson dan William Nordhaus. Mikro ekonomi. 1993. Erlangga. Jakarta. Hlm 221

[4] ibid

[5] ibid

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

Kurniawan Dwireply
1 Maret 2019 at 7:35 pm

Monopoli pasar? Menurut saya sendiri ada baiknya, namun lebih condong ke sisi buruknya. Kemajuan serta inovasi produk akan semakin kecil, selain itu harga produk yang dipasarkan akan lebih tinggi dibanding jika memiliki banyak saingan.

Mari diskusi ..