Sejarah Ekonomi yang Hilang

Oleh : Adzie A Fauzie

Nama pena : Aji Pamungkas

Dalam buku teks ekonomika untuk pengantar SMA maupun kuliah, sudah menjadi hal yang wajar jika pada halaman-halaman awal buku, disodori dengan pelbagai sejarah pemikiran dan tokoh tokoh yang mengembangkan ilmu ekonomi. Sebut saja ketika ilmu ekonomi belum menjadi rumpun ilmu tersendiri, orang yang pertama kali menggagas konsep ekonomi adalah Plato (427-347 SM) di dalam magnum opusnya yang berjudul Republican dengan konsepnya tentang spesialisasi kerja. Gagasannya itu meskipun merupakan sesuatu yang tak disengaja di temukan, namun merupakan salahsatu sumbang asih yang diberikannya bagi pengembangan ilmu ekonomi. Menurutnya, ketika berusaha dalam memahami konsep kemakmuran negara, apa yang ideal untuk sebuah negara, timbul dan tergantung dari spesialisasi yang terjadi di masyarakat secara alamiah. Karena dengan adanya spesialisasi, maka masyarakat bisa menggunakan tenaganya secara produktif dan efisien.

Sumbangan lainnya juga diberikan oleh Aristoteles yang mengemukakan konsep tentang pertukaran barang dan kegunaan uang. Menurutnya, kebutuhan (use) manusia itu terbatas, sedangkan keinginan(desire) manusia tidak terbatas.  Lalu diakhiri dengan pemikiran Xenophon (440-355 SM) sebagai orang yang pertama kali menggunakan kata oikos (rumah tangga) dan nomos (pekerjaan) yang karya utamanya adalah “On the Means of Improving Revenue State of Athens”.

Pemikiran ini pun layaknya cabang ilmu lain semakin lama makin berkembang bak bola salju yang menggelinding hingga akhirnya kita mengenal seseorang yang banyak orang menyebutnya sebagai Bapak nya ekonomi, yaitu Adam Smith, seseorang yang pertama kali memperkenalkan ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu independen, dengan bukunya yang terkenal dan masih menjadi pegangan para ekonom kaliber sekarang yang berjudul An Inquiry into Nature and Causes of Wealth of Nation.

Namun perlu diketahui dan dicatat, bahwa yang ingin saya tulis disini bukanlah tentang sejarah pemikiran ekonomi yang menerangkan tentang apa dan bagaimana ia berkembang. Apalagi tentang biografi masing-masing tokoh. Karena hal itu mungkin sudah banyak yang mengulasnya dan dengan gampang tinggal searching di gugel. Melainkan tentang sejarah ekonomi di buku teks SMA maupun kuliah yang—setelah membahas pemikiran ekonomi dari Yunani, biasanya dan sering kali loncat ke pemikiran ekonomi Eropa— selalu dan seperti di sengaja, selalu disampaikan secara tidak utuh.

Jika anda cermat sebenarnya—tidak hanya di buku teks ekonomi—di buku buku lain baik sejarah, biologi, dan sebagainya, terutama di buku LKS SMA (jika anda masih ingat tentunya) anda akan disodori dengan pelbagai pemikiran yang dimulai dari zaman Yunani langsung loncat bebas ke abad pencerahan. Contohnya ketika membahas sejarah ilmu ekonomi kebanyakan yang diulas adalah tokoh yunani dan eropa. Ada ketidak konsistenan yang berusaha para penulis dan penerbit buat dalam merangkai data dan fakta sejarah.  Jika  periode Yunani dan Skolastik berakhir sekitar abad 7 lalu kemudian mulai berkembang lagi pada Abad 17 an ditandai dengan Renaissance. Maka kemana saja ilmu itu berada selama berabad abad? Menghilangkah? Para sejarawan berdalih salahsatunya adalah Joseph Schumperer, dengan mengatakan bahwa pada masa itu merupakan masa yang ditandai dengan Dark Age. Yaitu masa kelam yang dialami masyarakat Eropa dengan kebodohan dan kemiskinan yang parah. Oke, sementara kita terima argumennya. Tapi sebuah pertanyaan kemudian timbul. Bagaimana caranya masyarakat Eropa bisa mendapatkan gilang gemilang Renaissance-nya itu? Apakah merupakan sesuatu yang hanya timbul dari ketidaksengajaan? Karena, aneh saja rasanya setelah berabad-abad dilanda kebodohan yang tiada tara, secara tetiba dengan ajib bin ajaib pada abad 17, ilmu datang dan mencerahkan masyarakatnya yang masih gelap gulita.

Pengetahuan merupakan sebuah bangunan bertingkat yang dibangun dari masa kemasa. Satu periode/generasi usai, maka pengetahuan akan dikembangkan, disempurnakan, dan dipertinggi lagi tingkat bangunnya oleh generasi berikutnya. Hal ini menjadi suatu keteraturan alamiah, dimana buktinya bisa dilihat dari aratefak dan penemuan situs sejarah, yang menunjukkan bahwa ternyata dari sudut horizon waktu, sebuah peradaban menjadi semakin kompleks dari satu masa ke masa melalui tahapan tahapan. Satu hal yang menunjukkan konsistensi bangun tadi. Maka berdalih, dengan mengatakan bahwa ada kekosongan peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan pada satu waktu dalam rentang sejarah, merupakan perbuatan yang sungguh naif.

Selain itu, Schumperer juga tidak menjelaskan secara rinci, proses, sebab, dan dari mana penemuan dan masa Renaissance bermula. Tidak ada penjelasan tentang, bagaimana Agustinus atau Aquinas memulai pemikirannya. Dari siapa mereka belajar, dan literatur mana yang mereka jadikan rujukan. Tentu ini sangat mengherankan, sejarawan sekalas Schumperer menjelaskan bagaimana sebuah peradaban bisa meloncat dari tangga ke 1 ke tangga 10 sekaligus.

150 tahun sebelum Aquinas lahir ke dunia (1225 M). Seseorang kelahiran Thus, Iran telah terlebih dahulu membuka teori tentang konsep harga yang adil, yaitu Imam Alghazali (1058 M) dengan karyanya yang berjudul Ihya Ulumudin. Ia mengupas tentang teori pasar dan mekanisme harga pasar bebas. Pemikiran yang dikemudian hari dikembangkan oleh Ibnu taimiyah (1263) di dalam kitabnya A-lahkam Al-sulthaniyah dan secara similiarly persis dengan teori yang ditulis oleh Aquinas. Bukan hanya Aquinas, namun banyak tokoh abad pertengahan yang mempunyai pemikiran persis dengan ilmuwan muslim dari abad 6-12 Mulai dari ilmu alam, sosial, astronomi, bahkan filsafat —yang Schumperer bilang bahwa masa ini adalah masa Dark Age. Karena pada nyatanya, meskipun Eropa pada abad tersebut merupakan abad yang suram, namun dibelahan dunia lain di jazirah arab justru sebaliknya, masa tersebut merupakan masa kejayaan Islam.

Saya disini tidak ingin mengecap bahwa pemikiran abad pertengahan menjiplak atau memplagiasi pemikiran kaum muslim. Karena tidak dapat dipungkiri, pemikiran ilmuwan muslim pun juga sedikit banyaknya memiliki corak yang sama dengan pemikiran Yunani. Sebut saja seperti Silogismenya Aristoteles yang mirip dengan Natijahnya Alghazali, atau konsep Wihdatul Wujudnya Ibnu Arabi yang persis dengan teori Emanasinya Plotinus. Saya hanya ingin menegaskan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang universal dan mengikuti alur sejarah, seperti yang telah di ungkapkan Hegel bahwa sejarah peradaban dan pengetahuan adalah sebuah proses yang koheren, tunggal dan evolusioner,[1] dan bukan sesuatu yang berserakan seperti yang di ungkapkan Schumperer. Anggapan bahwa ada dark spot pengetahuan dan pemikiran pada suatu masa merupakan hal yang mustahil dan menentang keteraturan alamiah.

Maksudnya adalah, jangan sampai pengetahuan yang kita kaji mencederai proses dengan meniadakan suatu masa pada proses pemikiran. Biarlah Adam Smith tetap menjadi bapak Ekonomi dan Plato sebagai penggagasnya, namun jangan lupa bahwa dari Plato ke Smith juga ada pemikiran yang menghubungkannya, yaitu pada masa kejayaan islam. Seperti sebuah bangunan yang bertingkat. Masa Yunani adalah masa pembuatan dasar bangunan dan strukturnya, masa Peradaban Islam adalah membuat bangunan tingkat ke-dua, dan masa Kebangkitan Eropa adalah masa membangun tingkat ke-3. Jangan sampai mengatakan bahwa bangunan tingkat 3 bisa berdiri kokoh cukup hanya dengan mengandalkan bangunan tingkat 1.

[1] Lihat Francis Fukuyama didalam bukunya yang berjudul The End of History and the Last Man

Mari diskusi ..