Dr. Jaenudin, M.Ag

Ketua Jurusan Hukum Ekonomi Syariah

Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Tuhan Seru Sekalian alam yang telah memberi kesempatan kepada kita bangsa manusia untuk hidup menggunakan jawarih, akal dan hati untuk memakmurkan alam . Semoga kita termasuk golongan orang yang bersyukur kepada Allah dengan memaksimalkan potensi yang diberikan oleh Allah untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah di muka bumi.

Sejak tahun 2017 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki visi untuk menjadikan program studi yang unggul dan kompetitif di bidang ilmu hukum ekonomi dalam bingkai al-akhlak al-karimah di Asia Tenggara Tahun 2025. Visi itu merupakan orientasi prodi dalam ikhtiar untuk mewujudkan sumber daya insani yang unggul.

Visi tersebut disusun dalam salah satu wujud ikhtiar manusia untuk mengelola dunia ini adalah dengan senantiasa mengembangkan potensi dirinya sehingga dapat semakin shaleh untuk mengejar tujuan kemanusiannya. Menurut Yusuf Qaradawi shaleh berarti konsolidasi untuk mencapai tujuan yang dituju. Jika tujuan manusia adalah untuk sejahtera di dunia dan akhirat, maka seorang shaleh akan mengkonsolidasikan semua potensi dirinya untuk mencapai tujuan tersebut. Ketidakseimbangan dalam konsolidasi tersebut akan menyebabkan kelumpuhan atau kebutaan. Manusia memiliki potensi ruhiyah dan jasmaniyah. Potensi ruhiyah berporos pada qalb, fuad, dan lubb. Sementara potensi jasmaniyah berporos pada jawarih yang bersifat biologis. Penyeimbang hubungan qalb dan jawarih adalah akal yang sehat.

Keseimbangan adalah keniscayaan. Jika manusia terlalu didominasi jawarih maka dia akan buta. Sementara kalau ia hanya mengandalkan hati maka akan lumpuh.

Keseimbangan adalah prinsip dasar dalam ekonomi. Itulah mengapa term yang digunakan untuk mendeskrisipsikan ekonomi dalam bahasa Arab adalah iqtishadiyah. Secara etimologis, iqtishadiyah adalah keseimbangan. Demikian juga dengan hukum ekonomi syariah. Terma yang sepadan untuk hukum ekonomi syariah adalah ahkam al-muamalah al-maliyah. Prinsip hukum ekonomi syariah adalah keadilan, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya secara proposional (al-‘adl atau al-qisth) dan amanah, yaitu jujur, ikhlas, dan memenuhi janji. Lawan dari adil adalah dzulm yaitu meletakan sesuatu bukan pada tempatnya dan tidak proposional. Sementara lawan dari amanah adalah khianat yaitu dusta, tidak memenuhi janji, atau menggunakan milik orang yang bukan haknya. Dua terma ini meniscayakan keseimbangan dalam berinteraksi dengan apapun dalam keadaan bagaimanapun.

Karakter berkeseimbangan inilah yang menjadi sifat dasar dari mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah. Dari karakter ini diharapkan lahir pembaharu hukum ekonomi syariah (mujaddid fi ahkam al-muamalah al-maliyah). Parameter mujaddid adalah mahasiswa yang senantiasa memaksimalkan potensi diri untuk memahami (mujtahid) dan memaksimalkan potensi diri untuk mengamalkan (mujahid) hukum ekonomi syariah.

Dari mahasiswa mujaddid yang berkarakter mujtahid dan mujahid diharapkan lahir generasi unggul senantiasa dapat melakukan kreasi dan inovasi dalam merespon perkembangan hukum ekonomi syariah dalam menopang industri berbasis syariah, baik dalam keuangan dan bisnis lainnya. Generasi unggul ini tidak diciptakan untuk menjadi generasi yang berada di menara gading tapi dituntut untuk berkompetisi dengan warga dunia lainnya dalam menunjukan siapa yang terbaik (liyabluwakum ayyukum ahsanu amalan). Kompetisi meniscayakan adanya interaksi dengan pihak lain. Akhirnya diharapkan, apa yang dihasilkan adalah manusia yang dapat mengamalkan ilmunya. Sehingga ilmu yang dikuasainya adalah ilmu yang bermanfaat.

Dalam orientasi visi tersebut, kerangka perumusan dan perwujudannya, seluruh civitas akademika prodi hukum ekonomi syariah disatukan. Beribu langkah dalam harmoni untuk mewujudkan visi bersama.

Semoga media ini menjadi wahana bagi kita semua untuk senantiasa terikat dalam usaha bersama mewujudkan visi program studi hukum ekonomi syariah (muamalah) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

Bandung, 2017

‘I found myself lifting my jaw from my chest at the end of every other chapter . . . this was not the Obama I thought I knew. She was more’

Independent